JANGAN TAKUT JADI ORANG ANEH

21 Oct

Jangan Takut Jadi Orang Aneh

oktober 21 2010, 9.00 pm

“Dunia memang aneh”, Gumam Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini..

“Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia
menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan,
sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku
menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan
pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai
sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum
alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa
banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz,
menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian
dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang
sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya”

“Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?” Tanya
ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi
ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang
lain rasanya…

“Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang
semestinya seperti itu dibilang “tumben”?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah
jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?

Orang yang pergi
ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain
justru tengah asik nonton reality show “SUPERSOULMATE” .

Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang
yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi
suara panggilan adzan.

Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan
mobilnya yang kotor karena kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,
“Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain di sekitarmu,” kata
Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” di sekitar kita?

Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha,
pasti akan nampak “aneh” di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca
koran dan mengobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”,
karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di
tengah-tengah
sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh di
tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan
makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya
nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di
tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang
di tempat shalat. Aneh, bukan?

Cobalah hari ini shalat Jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid
masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang
selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa
aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal
nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test
saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau
ayat al Qur’an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca
artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut
menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at
dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut dibilang “tumben” ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian
rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur’an (Al A’raf:31)

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di
kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul
tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada
waktunya,
karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya
terhadap orang-orang beriman.

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telah
merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya
shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman.” (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat Jum’at/shalat berjama’ah berada di shaf terdepan,
karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada
kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu’alaihi wassalam para sahabat
bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al
Jumu’ah:9)

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur’an,
karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling
menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran
adalah sebaik-baik perkataan;

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah
menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali
kita kirim artikel,
lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan,
lenyap donk ladang amal kita….

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim
e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau
bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong
itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat” (potongan dari
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn
Umar).

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran
dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang
terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan
ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja. Mutiara
akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah
tidak akan
pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah
sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh
ditengah orang-orang yang berbikini dan ber ‘you can see’.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun
akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka”
jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan
menyelamatkan kita?

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar…

Oleh : Fuad Baradja

Mau tips menulis dari Salim A. Fillah, seorang penulis buku best seller, seperti “Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan”, dan “Jalan Cinta Para pejuang” ? Ini dia kiat-kiat yang saya dapat saat mendengar penuturannya di Masjid Salman ITB setelah solat subuh.

Ada tiga kiat yang disampaikannya. Kang Salim menyebutnya sebagai tiga daya, yaitu :

  1. 1. Daya ketuk…

Sebuah tulisan yang baik, harus dapat mengetuk para pembacanya. Kata-kata yang disampaikan melalui sebuah tulisan itu harus dapat menggerakkan pembacanya. Pembaca merasa seperti ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya setelah membaca untaian kalimat dalam sebuah tulisan itu. Walaupun singkat, kalimat itu mampu membangkitkan semangat para pembacanya. Walaupun hanya satu atau dua kata, ia mampu mengubah paradigm seseorang. Walaupun hanya sedikit ia mampun memberikan inspirasi bagi seorang yang membacanya.

Nah, bagaimana agar tulisan kita mempunyai daya ketuk, ternyata bahwa tulisan itu harus murni dan ikhlas dalam menyampaikannya. Tulisan itu berasal dari hatinya yang terdalam. Tulisan itu berasal dari gejolak perasaannya yang jujur. Tulisan itu berasal dari sanubarinya yang tidak pernah berbohong. Inilah yang membuat tulisan itu bisa menggerakkan seseorang, karena tulisan itu berasal dari hati. Menyambung dengan hal ini, Aa Gym pernah berkata, “Hati dapat diubah dengan hati.”

Jadi, sepertinya saya harus jujur dengan diri saya saat akan menulis. Jadi ketika tangan ini akan menggerakkan sebuah pena atau menekan tombol-tombol di keyboard, haruslah berasal dari sesuatu yang murni apa adanya. Haruslah berasal dari suatu keikhlasan. Mungkin sulit, tapi insya Allah kita bisa.

  1. 2. Daya isi

Ya, tulisan itu pun harus memiliki isinya. Artinya, tulisan yang baik itu dapat dipahami oleh para pembacanya dan dapat menambah wawasan serta ilmu baru baginya. Ketika kita membaca sebuah tulisan, adakah ilmu baru yang didapat, adakah hikmah baru yang dapat dipetik, adakah wawasan yang mencerahkan ? Nah, inilah pertanyaan yang dapat menjadi indikasi sebuah tulisan itu apakah sudah berisi atau belum.

Supaya tulisan kita berisi, maka Kang Salim mengatakan bawa kita harus juga banyak belajar. Menulis itu dapat membangkitkan semangat kita untuk terus belajar. Kita harus menambah ilmu yang ada pada diri kita. Karena, seperti yang dikatakan oleh pakar Membaca-Menulis, Hernowo, bahwa untuk menulis itu kita perlu membaca. Kenapa? Karena dengam membaca, ilmu kita bertambah, perbendaharaan kata akan semakin banyak, dan ini akan memudahkan kita dalam menulis. Semakin banyak ilmu, pengetahuan, serta wawasan, maka akan semakin berisi tulisan kita. Semakin kaya akan kata-kata, maka akan semakin mencerahkan tulisan itu.

Jadi, banyak-banyaklah membaca buku jika ingin tulisan kita semakin berisi…

  1. 3. Daya untuk menjelasakan

Kemampuan kita untuk menjelaskan atau memaparkan sesuatu dalam sebuah tulisan, merupakan salah satu modal untuk menghasilkan tulisan yang baik. Penggunaan kalimat serta gaya bahasa yang tepat sesuatu dengan pembacanya, maka akan semakin menjadikan tulisan kita baik dan dapat mudah dicerna.

Tambahkan kata-kata yang memang sesuai dengan kesukaan pembaca. Ada yang tipe auditorik, gunakan kata-kata seperti, “Mendengar, menyimak”, untuk tipe visual, kata-kata seperti, “Melihat, mengamati, memandang,”akan membuat nyaman pembacanya, serta tipe kinenstetik, gunakan kata-kata seperti, “merasakan, tersentuh,”

Untuk itu gabungkanlah ketiga macam kata-kata itu ke dalam tulisan kita, agar dapat dibaca dengan nyaman oleh para pembaca.

Demikianlah teman-teman tiga daya sebagai tips dari Kang Salim untuk kita-kita yang ingin menulis. Tips yang sudah tentu harus dipraktekkan dengan banyak latihan. Mari kita semua berlatih sebanyak-banyaknya agar tulisan kita dapat semakin baik dan berkualitas dari hari ke harinya.

Ada metode baru yang saya dapatkan ketika mengikuti seminar entrepreneurship pada hari selasa kemarin.  Metode ini tidak terkait secara langsung dengan dunia bisnis, tetapi lebih menyangkut kepada hal yang ada dalam diri kita pribadi. Ini adalah sebuah metode untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan.

Saya yakin, kita semua berharap kebiasaan-kebiasaan buruk itu dapat menghilang dari diri kita, pergi jauh tanpa pernah datang kembali. Kebiasan-kebiasaan itulah yang dapat menghambat  kita untuk menggapai cita-cita kita.

Kita ingin sekali untuk menghilangkan kebiasaan itu, tetapi sering kita merasa, “kok, sulit banget ya,,,udah berjanji,tapi kok muncul lagi, melakukan lagi, kena lagi,”

Nah, mudah-mudahan metode ini bisa membantu kita untuk menenggelamkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Bagaimana caranya ? ini dia caranya.

  1. Siapkan kertas selembar
  2. Tulis kebiasaan-kebiasaan buruk kita dalam kertas itu sebanyak-banyaknya. Tulis dengan sejujurnya. Tidak perlu orang lain tahu. Hanya diri kita dan Tuhan yang tahu. Tulis seolah-olah kita ingin mengeluarkan sesuatu yang buruk dari dalam kita. Keluarkan hal-hal yang negatif itu yang mungkin telah lama bersarang dalam diri kita. Tulislah kebiasaan itu yang mungkin melanggar norma sosial, hokum agama, ataupaun melanggar etika. Tulislah itu kesemuanya.
  3. Lalu, angkat dan genggamlah selembar kertas itu.
  4. Kemudian, remaslah hingga kertas itu menjadi lecek, rusak. Rasakan dalam diri kita bahwa kita ingin agar kebiasaan buruk itu remuk seiring dengan leceknya kertas itu.
  5. Selanjutnya taruhlah kertas itu di lantai dan injaklah… Injak dengan penuh keyakinan dan semangat bahwa kebiasaan itu akan rusak seiring dengan hancur leburnya kertas itu.
  6. Setelah itu buanglah remukan kertas itu ke dalam tempat sampah…sekarang tinggal ucapkan, “selamat tinggal kebiasaan burukku..”

Itulah caranya…lakukan dengan semangat… Tetapi belum selesai teman-teman…Ada satu tahap lagi, yaitu :

  1. Siapkan selembat kertas lagi yang baru
  2. Kali ini, tuliskan kebiasaan-kebiasaan baik yang akan kita lakukan untuk menggantikan kebiasaan-kebiasaan buruk itu.. Tulislah dengan keyakinan, rasa optimis, dari hati sanubari yang terdalam. Tulis seolah-olah kita ingin sekali bersahabat dengan kebiasaan baik itu, menjadi teman yang senantiasa menemani dalam hari-hari kita.

Tulislah dengan kalimat berikut :

Hari ini saya (tulis nama masing-masing) berjanji untuk memulai kebiasaan baik saya, yaitu :

–          …..

–          …..

–          …..

  1. Setelah itu, deklarasikan dengan membacanya…bisa dihadapan teman ataupun dikaca.. keluarkan suara kita. Saksikanlah bahwa kita telah siap untuk mengubah kebiasaan buruk kita menjadi kebiasaan baik yang akan memberikan cahaya kebermaknaan dalam mengarungi kehidupan ini.

Nah, inilah yang kemarin saya lakukan bersama teman-teman yang lain yang mengikuti seminar itu. Mungkin ini bisa menjadi alternatif bagi kita untuk bisa memperbaiki diri kita dengan meng-install kebiasaan baik kita setiap hari. Jika kebiasaan buruk itu masih akan muncul kembali, maka lakukan lagi hal ini. Insya Allah kita bisa meredamnya lagi…

Semoga kebiasaan baik ini bisa konsisten kita lakukan dengan ikhlas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: