akhir yg bahagia

20 Dec

Sekitar 2 bulan lalu saya pergi berlibur ke solo,sengaja saya pilih angkutan umum yang tidak berfasilitas bagus dan tentunya dengan tarif yang sangat murah,perjalanan saya awali dari daerah muntilan magelang dengan mini bus,tiba di sebuah perempatan,(gak tau nama perempatanya) sejenak saya meyempatkan diri memperhatikan tingkahlaku bapak2 tukang becak,dan kebetulan saat itu trafiklight sedang merah..ada 3 orang bapak becak disana..masing2 berumur antara 50-65 tahun,,dan saya perhatikan seorang bapak becak yang umurnya paling sepuh(tua) ternyata mendapatkan penumpang seorang ibu berbadan gemuk dan seorang wanita muda yang postur tubuhnya tidak jauh berbeda dengan ibu tadi,(sepertinya mereka ibu dan anak) ditambah lagi si ibu menggendong anak kecil yang masih balita plus sedikit barang bawaan,,rambut yang sudah memutih,badan kurus,kulit keriput,dan proporsi mulut yang sudah men-cekung kedalam(mungkin memang gigi bapak ini sudah banyak yang hilang) dan beliau harus mengayuh becaknya dengan beban yang saya fikir terlalu berat,,biasanya sebelum mengayuh,para pengemudi becak terlebihdahulu harus mendorong becak ketepi jalan dengan penumpang yang telah duduk di atasnya,saya lihat bagaimana si bapak terlihat mati matian berusaha agar roda becaknya mau bergerak…dan berlalulah bapak tadi beserta becaknya…sambil melambai tersenyum kepada rekan2nya yang masih berkelakar sambil menunggu penumpang di pojok perempatan…

Saya tiba di terminal bus jogja(saya lupa namanya) dan langsung mencari bus yang kira2 sekelas bus yang barusan saya tumpangi,,saya ambil kursi paling belakang ..panas,berkeringat,bau yang bercampur aduk menjadi hal yang sejak tadi saya rasakan,..seorang bapak membawa sebuah karung plastic mengambil tempat duduk tepat disebelah saya,diletakkanya karung bawaanya di bawah kursi agar penumpang yang lewat tidak terhalang,bus mulai bergerak meniggalkan terminal baru jogja,,panas matahari langsung masuk lewat kaca yang memang tidak dipasang gorden..

“Turun dimana mas? Bapak disebelah saya membuka percakapan sambil tersenyum…
“Di solo pak,, jawab saya ,,,kalau bapak dimana? tanya saya balik
“Saya di klaten mas,,tapi enggak di kotanya,,5 km sesudah klaten-nya…,acara apa mas di solo ?
“Saya liburan ke solo pak,,sambil silaturahmi ke tempat keluarga disana..
“Mas kuliah dimana mas?? Bapak tadi kembali bertanya…
“Saya nggak kuliah pak,,saya nganggur jawab saya jujur,,
“Saya parjio mas,tapi panggil saja saya parji,,
“Saya agus pak,,sambut saya sambil menyalami tangan pak parji…
“Anak sudah berapa pak parji? Tanya saya lagi…
“Alhamdulilah sudah 4 mas,yang 1 kerja di bogor,yang ke 2 smu kls 2,ysng ke 3 smp kls 3,dan yang terakhir masih SD kls 5,,
“Gimana pak rasanya jadi orangtua?
Hahahaha,,pak parji tertawa renyah…(atau mungkin menertawakan pertanyaan aneh saya),,”Bisa dibilang susah2 senang mas,,susahnya ya kalau saya telat mbayar spp anak2,saya kashian melihat mereka di tegur guru,kadang hati saya sedih,tapi saya pendam mas,,biar saya saja yang mikir dan merasakan rekosonya(susahnya) nyari uang mas,kalau senangnya… mereka itu bisa buat saya tertawa mas,,mereka ndak macem2,,mungkin karena keadaan ekonomi kami,…jadi anak2 saya tau diri dan tidak mau aneh2 di usia remajanya ,mereka itu harta kekayaan saya mas,,ya meski kadang mereka juga ada buat2 salah,saya nilai itu manusiawi,,,betul to mas….hehehehehehe pak parji menutup kalimatnya dengan tawa halus…

“Iya pak,,, saya mengangguk sambil ikutan tertawa…
Apa yang bapak harapkan dari anak2 bapak?…saya bertanya lagi…
Hahahahaha,,lagi2 pak parji tertawa..(mungkin ini ciri khas beliau),,saya ini sadar diri mas,saya ndak punya harapan terlalu muluk2 mengingat saya saja ndak bisa ngasih mereka apa apa,, saya Cuma berharap mereka jadi anak yang baik,baik,baik dan selalu baik juga soleh mas,,

“Kok Cuma baik dan soleh pak,,,Tanya saya penasaran…

“Mas agus…. Buat saya itu yang utama mas,,tentang akan jadi seperti apa mereka nantinya itu tuhan yang tau,,”baik dan soleh“selalu jadi prioritas untuk jiwa anak2 saya mas,, ini contoh ya mas,,jika tuhan berkehendak sutu hari anak saya jadi manager,,tapi jiwa anak saya yang tidak baik,maka buat apa jabatan tinggi itu.. takutnya mereka jadi maling,koruptor,semena mena,dll mas…

“Mas agus,,anak2 kita itu adalah kunci surga juga kunci neraka buat kita… pak parji melanjutkan…
Saya tertegun mendengar kalimat terakhir pak parji barusan,,kunci surga dan neraka??? Saya berfikir sejenak,,tapi masih tumpul untuk menyimpulkan,,.. maksudnya pak? Tanya saya bersemangat…

“Mas,, coba kalau anak2 kita tidak baik,mereka gemar mabuk,bergaul diluar nikah (free seks),melakukan hal2 yang dilarang,memakai narkoba,menipu dll.. itu dosa tidak mas,,Tanya pak parji kepada saya…

“Dosa… jawab saya…

“Maka kita sebagai orang tua akan dimintai pertanggung jawaban di sana kelak,,karena kita tidak mampu menjaga amanah (“anak “maksud pak parji) dengan baik,,kita akn ditanya kenapa anak2 kita bisa seperti itu,, maka neraka sudah didepan kita kan mas?…

Saya terdiam beberapa saat…,kelu lidah saya untuk bergerak…
“Iya pak….jawab saya akhirnya..

“Kebalikan-nya mas,,jika anak kita baik, maka tuhan akan mempermudah kita dalam mencapai surganya,,bukankah doa anak sholeh itu manjur,hehehehehehehehehehehe…
Eh mas,,ni saya sudah hampir sampai,,mohon maaf jika ada salah2 kata ya mas,,semoga kita ketemu lagi,,hehehehehe amin…
Iya pak,makasih sudah mau berbagi dengan saya…amiiin pak…hehehehehehe
Pak parji beranjak menuju pintu keluar dan turun sambil melambaikan tangan kearah saya sebelum bus bergerak…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: